Bibit Karet Tiga Kaki (Three in One) belum teruji secara empiris!!

Selain jenis-jenis tersebut, di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung saat ini banyak pula beredar bibit kaki tiga atau sering disebut bibit Three in One. Dinyatakan, bahwa dengan menggunakan bibit kaki tiga akan mempercepat pertumbuhan sehingga dapat memperpendek masa tanaman belum menghasilkan. Bibit jenis ini dijual lebih mahal atau dua kali lipat dari harga bibit unggul standar.

Teknik perbanyakan bibit kaki tiga pada dasarnya hampir sama seperti pembuatan bibit okulasi polibeg pada umumnya. Stum mata tidur ditanam dalam polibeg, kemudian di dalam polibeg yang sama ditanam lagi dua tanaman berasal dari semaian yang telah disiapkan di kebun pembibitan batang bawah.

Dua buah tanaman semaian tersebut kemudian disusukan pada stum mata tidur, sehingga pada tanaman tersebut terdapat tiga buah tanaman (berkaki tiga). Setelah sekitar tiga hingga enam bulan tanaman tersebut siap dipasarkan dengan sebutan bibit polibeg berkaki tiga (three in one). Namun banyak juga bibit three in one tersebut diperdagangkan tanpa dilakukan okulasi (bibit seedling).

“Pada dasarnya bibit kaki tiga yang saat ini banyak beredar di pasaran belum teruji secara empiris, sehingga belum diketahui keunggulan baik dari segi pertumbuhan maupun produksinya. Penggunaan biji/batang lebih dari satu untuk batang bawah yang telah dilakukan oleh penangkar sebenarnya tujuannya untuk apa?”

Kalau tujuannya untuk mempercepat pertumbuhan, tidak perlu menggunakan biji/batang lebih dari satu. Pada saat ini telah banyak klon-klon yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Karet yang mempunyai pertumbuhan cepat (matang sadap 39 bulan) dengan produksi tinggi. Klon-klon tersebut dikelompokkan dalam Klon Penghasil Lateks-Kayu, seperti RRIC 100, IRR 5, IRR 39, IRR 42, dan IRR 119.

Sementara itu kalau tujuan untuk mendapatkan daya hasil tinggi, dengan penggunaan biji/batang bawah lebih dari satu belum tentu dapat meningkatkan potensi klon batang atas, bahkan bisa terjadi hal sebaliknya yaitu menurunkan produksi akibat tidak terjadi kesesuaian (incompatability) antara klon batang atas dengan batang bawah. Beberapa klon yang mempunyai potensi produksi tinggi, yaitu BPM 24, PB 260, PB 330, PB 340, IRR 104, IRR 112, IRR 118, dan IRR 220, telah tersedia dan dapat digunakan untuk tujuan tersebut.

Penulis: Island Boerhendhy, peneliti di Balit Karet Sembawa